Selasa, 15 Februari 2011

Pagi yang tak terlupa



Secerah mentari pagi
Sinarnya datang
Pagi itu kau selalu datang menghampiriku
Kau datang dengan senyuman di wajahmu

Kala mentari bersinar terang
Menerangi alam ini
Kau selalu menghiasi pagiku dengan senyumanmu
Hingga saat ini pagiku hilang tanpa sosokmu

Cerah cerianya pagi
Embun pagi menyejukkan hati
Akankah pagi itu akan terulang kembali
Ku rasa semua tertinggal dan akan tersimpan dan terkenang selamanya di hati

Selasa, 08 Februari 2011

Ketika cinta harus memilih

Teriknya panas matahari siang itu membuatku untuk enggan pergi meninggalkan ruangan kelas. Sebagian teman-teman kelasku pergi meninggalkan ruangan, ada juga yang masih memilih didalam ruangan untuk mengerjakan tugas yang belum terselesaikan, dan aku melihat ada sebagian yang asyik mengobrol. Aku yang sedari tadi masih duduk di bangku, dari dimulainya mata kuliah jam pertama sampai selesai, aku lebih memilih menyindiri dan menikmati bacaan novelku yang hampir selesai aku baca. 15 menit kemudian, ku dapati satu pesan di handphoneku. Aku membukanya dan pesan itu dari dira kekasihku.
From: dira
Aku tunggu sekarang ya didepan fakultas kamu.

Beberapa detik kemudian aku segera membalasnya sambil tersenyum.
To: dira
Iya tunggu sebntar ya. Aku kesana.
Segera aku merapihkan dan memasukkan kedalam tasku buku-buku yang masih berserakan diatas mejaku, sesaat kemudian aku pergi meninggalkan ruangan kelas dan sebagian teman-temanku yang masih didalam. Aku berjalan menuju lift dari lantai 4 ke lantai 1. beberapa menit kemudian aku keluar dari lift menuju pintu keluar masuk fakultas. Sesampainya didepan pintu aku melihat mobil jazz merah milik dira yang sudah menungguku didepan parkiran, segera aku membuka pintu mobilnya dan akupun tersenyum menatap dira.
“Kita mau kemana dir?” ucapku dengan nada penasaran.
“aku cuma mau buat kamu seneng aja, lagi juga aku belum pernah ngajak kamu jalan.” Balas dira sambil menstarter mesin mobilnya.
Genap setengah tahun aku mengenal dira, tetapi baru satu bulan ini kami menjalin hubungan. Dira adalah pacar pertamaku, maklumlah orang tuaku mengizinkan berpacaran setelah lulus dari SMA. Jadi beruntunglah dira yang menjadi pacar pertamaku. Aku memilihnya bukan berarti aku ingin cepat-cepat untuk mendapatkan pacar, karena aku tau dira pria cerdas yang baik dan sopan. Dira memang pria cuek aku juga bukan seperti wanita yang kebanyakan selalu ingin dimanja dengan kekasihnya, aku tau dimana dan kapan aku harus menempatkan itu pada waktunya. karena aku selalu menempatkan sesuatu selayaknya dan sewajarnya. Aku dan dira memang saling membutuhkan untuk saling melengkapi dan menerima kekurangan dan kelebihan kami masing-masing. Aku dan dira dipertemukan di kampus ini sewaktu masa-masa kami sedang ospek, kami memang satu kampus tetapi berbeda fakultas. Aku juga tak menyangka jika akhirnya aku bisa mengenal dan mencintainya. Dan juga saat ini telah menjadi status untuknya. Sempat tak terfikir olehku dira yang memiliki sifat cuek dengan semua orang, tetapi karena kecuekannya dia peduli denganku. Begitu juga dengan dira yang bukan kebanyakan cowok yang selalu memperlakukan kekasihnya dengan romantis bisa menyempatkan waktunya hanya untuk mengajakku jalan. Tak aneh jika aku merasa sangat bahagia diperlakukan istimewa seperti ini, karena ini adalah hal yang pertama kalinya dira mengajakku jalan selama kami berpacaran.
Beberapa menit kemudian mobil dira berhenti ditempat dimana dira pernah menyatakan cintanya padaku. Ya… di kafe inilah salah satu tempat di daerah Jakarta selatan, kafe ini memang tidak jauh dari kampus kami.
Sesampainya kami didalam, dira yang mencarikan posisi dimana kami akan duduk. Dan akhirnya dira memilih posisi di tempat kami duduk sewaktu kami pernah ke tempat ini.
“ aku ingin mengakhiri hubungan ini ran..” ucap dira tanpa basa-basi.
“kenapa? Kamu gag usah becanda dir, kamu tau kan aku sayang banget sama kamu?” Jawabku tersentak kaget.
“tapi aku gag bisa melanjutkan hubungan ini.. aku gag mau nyakitin kamu lebih dalam.. dan aku bukan orang yang pantas buat kamu.. disana masih banyak yang lebih pantas ngedapetin kamu.” Timpal dira merendah.
“buat apa kamu ngomong begitu, bukannya kemarin kamu bilang kamu sayang aku? Ngapain kamu bilang cinta ke aku kalau akhirnya kamu cuma bisa nyakitin aku.” Ucapku kasar.
“iya aku sadar aku tau, aku merasa aku gag bisa ngebahagiain kamu...” Jawab dira melemah.
“salah aku apa diraaaa? aku bahagia ko’…. Aku terima kamu apa adanya. Aku gag terima gitu aja aku minta penjelesan yang sejelasnya.. oh.. aku tahu kenapa? atau selama ini kamu hanya ingin mempermainkan aku?”
“engga ran… karena aku gag bisa mencintaimu..”dira tertunduk.
“ bohong… aku gag percaya…”mataku menatap dira tajam.
“ serius ran, aku hanya tidak ingin membuatmu jauh lebih dalam sakit” jawab dira semakin merendah seolah tak berani menatapku.
“maksut kamu apa sih dir?” timpalku penasaran.
“ maaf ran intinya aku gag bisa ngelanjutin hubungan ini,aku minta maaf banget sama kamu karena aku yang memulai aku juga yang mengakhiri.”Dira semakin memelas.
“kamu tau kan aku sayang banget sama kamu? Kamu tau kan kalau aku bahagia sama kamu?kamu jahat dir sama aku.. kamu gag pernah mau mikir gimana perasaan aku saat ini!”
Terhenyak aku mendengar semua pengakuan dira, hampir dua jam kami bercakap-cakap. Dan akhirnya kami membisu.Tubuhku mematung rasanya seperti tersambar petir disiang hari . Air mataku saat itu juga tumpah, dan rasanya sangat sulit sekali untuk bernafas. Aku sesak dengan tangisanku. Entah perasaan apa yang ada dihatiku saat ini, aku hanya bisa memlilih untuk menangis sejadi-jadinya. Tetapi dira yang sedari tadi masih ada dihadapanku lebih memilih berdiam tanpa mempedulikan aku seperti ini, dira tak berani menatapku sedikitpun, tak ada ketenangan yang dira beri untukku, ternyata dira sama sekali tak mempedulikan aku saat ini.
“ aku gag bisa melihat wanita menangis, gag usah ditangisi gag ada yang pantas kau tangisi ran.. anggap saja kamu gag pernah kenal aku…” ucap dira sedater-datarnya tanpa merasa bersalah.
Sesaat kemudian dira pergi meninggalkan aku yang masih duduk menikmati tangisanku. Tanpa permisi dan tanpa perasaan bersalah dira berjalan menuju parkiran.
***
Hampir satu bulan aku lebih memilih untuk berdiam dan menjadi cuek dengan siapapun. Aku merasa tidak ada lagi yang selalu mewarnai hari-hariku, mengisi malam-malam kelamku disaat aku merasa sepi dan sendiri. Aku memang sangat membutuhkan seseorang yang bisa mengajariku segalanya tentang arti hidup. Aku rapuh dan saat ini aku terjatuh. Siapa yang akan mampu membuatku dapat berdiri kembali? Hanya sahabat-sahabatku yang dapat dan mampu membuatku untuk berdiri kembali, tapi sayang rusukku telah patah hanya karena semua pengakuan dira kemarin. Rasanya setelah kejadian ini aku semakin membenci pria-pria yang hanya bisa menyakiti tanpa harus memikirkan perasaan wanita. Buat apa bilang mencintai jika akhirnya hanya menyakiti.

***
Pria itu tersenyum menatapku. Matanya yang memancarkan kedamaian dan senyuman yang manis dari bibir mungilnya masih terus menatapku. Aku hanya menatap tanpa membalas senyumannya, aku lebih memlilih menundukkan kepalaku sambil melangkahkan kaki menuju perpustakaan kampus. Aku memang tidak mengenalnya dan aku pikir itu hanya trick pria untuk membuat wanita merasa tersanjung hanya karena dilemparkan senyuman.
***
Hari demi haripun kami memang sering bertemu di lantai ini. Entah apa yang membuat kami sering dipertemukan, sesering kami dipertemukan pria hangat itu selalu melemparkan senyumannya padaku, tetapi berkali-kali aku tak mempedulikannya. Setelah beberapa minggu kemudian, aku merasa tak enak jika harus terus menerus menyuekinya, dan aku yakin pria hangat itu tidak pernah merasa jenuh jika hampir disaat aku bertemu dengannya selalu bersikap cuek.
“kelas A semester satu ya?” ucap pria itu tersenyum.
“iya.. kenapa?” jawabku datar.
“aku juga semester satu tapi kelas B… namanya siapa?” timpalnya dengan ramah.
“rani…” ucapku tersenyum.
“nah gitu dong senyum… Dikelasku juga ada yang namanya rani juga lho…kalau nama panjang kamu rani apa?” pria hangat itu membalas senyumku.
“putri khairani…” timpalku masih datar.
“ohh berarti beda nama panjangnya…hehe, eh iya aku Adi” dengan hangat pria itu kembali tersenyum.
***
Genap dua bulan tak ada kabar tentang dira, entah disaat kejadian putusnya kami aku lebih memlilih untuk menghindar. Rasanya aku tak ingin melihatnya ataupun mengingat kejadian yang membuat aku trauma. Aku memang sangat mencintai dira, mungkin sampai detik ini aku masih belum bisa melupakannya. Dan aku terus berusaha mencari cara agar aku dapat melupakannya. Tetapi genap dua bulan juga Pria hangat itu yang bernama adi menjadi teman disaat kesepian dan berbagiku. Entah berawal dari perkenalan yang tak disengaja itu sampai saat ini aku merasa dekat dan nyaman dengannya. Dan Karena adi juga aku dapat tersenyum kembali dan menjalani hidup.
***
Siang itu setelah mata kuliah kami selesai hari ini, adi berniat mengajakku makan di kantin kampus. Akupun tak menolaknya dan akhirnya kami berjalan menuju kantin. Setelah beberapa menit kemudian kami memesan makanan dan mencari posisi dimana kami akan duduk. Suasana kantin yang ramai dan membuatku untuk malas berlama-lama dikantin. Setelah kami selesai makan dan sedikit bercakap-cakap sebentar. Tiba-tiba datang dira yang menemuiku bersama adi.
“ehm…cieee…jadi selama ini udah dapet pengganti aku yaa ran..” ucap dira meledek.
“siapa? Dia bukan pacar aku… kenapa? kamu cemburu?” balasku cuek.
“iya.. aku cemburu” jawabnya dengan tegas.
“ohh… itu kan hak kamu buat cemburu” ucapku dengan nada jutek
Detik itu juga aku dan adi pergi meninggalkan dira yang masih duduk di meja makan. sepertinya adi lebih memilih membisu tanpa ingin mencampuri urusan aku dengan dira tadi.
***
Kesokannya…
Sesaat aku ingin masuk kelas, aku melihat sosok adi yang tengah asyik berjalan dengan wanita menuju ruang kelas. Aku semakin penasaran siapa wanita itu, tapi sepertinya aku pernah melihatnya dan kuingat-ingat lagi wanita itu adalah teman kelas adi. Wanita itu sangat menikmati kebersamaannya dengan adi, mereka bercanda-canda sepertinya mereka begitu akrab dan sangat dekat.
Ternyata bukan hanya sesekali itu saja mereka bersama tetapi hampir setiap hari kedekatan mereka. Aku merasa ada yang mengganjal dihati aku memang tak suka dengan kedekatan mereka yang begitu dekat itu sepertinya aku cemburu, tetapi aku sadar memang tak pentas cemburu karena adi bukan siapa-siapa untukku. Tapi aku tak bisa elakkan jika aku ternyata mencintai adi.
***
Hari demi haripun sepertinya aku merasa sangat jauh dengan adi. Sesekali kami bertemu hanya bertegur sapa, tetapi lagi-lagi disaat kami bertemu adi selalu bersama wanita itu. Entah apakah mereka sudah menjalin hubungan atau mereka hanya berteman. akupun tak tahu mengapa? Tetapi setelah aku mengenal adi dan karena adi-lah aku belajar untuk dapat tersenyum kembali. Aku merasakan sepertinya aku mencintai adi, tetapi disaat posisi bersalah seperti ini aku merasa tak ada harapan jika adi mencintai aku.
***
Pagi itu, Adi tersenyum menatapku. Matanya yang indah dan senyuman yang memancarkan kehangatan itu sangat terlihat disaat tanpa tersadar aku sangat dalam menatapnya.
“ kenapa ran ko’ bengong…?” ucap adi.
“ hmmm…gag ko’ hehe…” jawabku mengeles.“ ko’ tumben gag barengan sama cewek? Biasanya bareng-bareng terus…”
“ cewek siapa ran? Haha… pasti kamu ngira aku sama dia jadian ya?” adipun tertawa.
“ iya… emang kamu gag jadian?” jawabku polos.
“ya gag lah… aku kan sukanya sama kamu” adi tersenyum menatapku.
“dih.. becanda aja nih…”
“gag becanda ko’… kamu sadar gag waktu pertama kali aku senyumin kamu, negor kamu, tapi kamu sama sekali gag pernah ngeresponnya? Aku suka sama cueknya kamu, juteknya kamu, pokonya kamu beda deh sama cewek lain. Hehe….”
“kamu serius di? Gag lagi becanda kan? Masa iya ada cowok suka sama cewek cuek kaya aku?”
“iya.. serius, kamu mau nerima aku gag?”
“hemmmmmmmm… sebenarnya aku juga….” Aku tersentak kaget.
Tiba-tiba saja handphoneku bergetar dan segera kuraih didalam kantong celanaku. Aku melihat handphoneku ternyata dira yang menelepon. Aku sempat ragu dan tak ingin mengangkat teleponnya, tetapi berkali-kali akhirnya aku mengangkatnya.
“halo…” ucapku.
“aku nyesel ran dulu mutusin kamu, aku ngerasa kehilangan kamu. Aku pikir aku bisa melupakanmu ternyata gag semudah itu. Percuma hampir wanita yang aku jadiin pacar ternyata Cuma kamu yang bisa ngertiin aku.. kamu mau kan balikan lagi sama aku?” suara dira memelas seperti merengek minta belas kasihan.
“kamu telat dir, emang yang namanya penyesalan selalu datang belakangan. Dan maaf aku gag bisa nerima kamu lagi”. Ucapku tegas dan segera mematikan telepon darinya.
Diwaktu yang bersamaan dira menelpon dan mengajak aku untuk kembali dengannya, tetapi disaat itu juga adi menyatakan ternyata dia mencintaiku. Sepertinya aku tahu siapa yang harus aku pilih. Dan ketika cinta harus memilih itulah Adi yang aku pilih dan aku cintai saat ini.

Senin, 17 Januari 2011

J.Co

tengah hari di siang bolong sengaja pengen ke J.co alias pengen online gratis haha.
ga taunya note book malah gak asik gak bisa diajak kompromi. ckck
gataunya malah ga bisa buat ngenet. dan akhirnya gue cuma menikmati yogurt dan donat. hahahahaha cuma gara itu bikin BETE tuh suasana.

Senin, 27 Desember 2010

Sahabatku kekasihku


Sebut dia haikal. Dia adalah teman kelasku selama 2 tahun dan kami dipertemukan kembali dengan kelas yang sama di SMA ini. Tak aneh jika kami begitu dekat, karena persahabatan kami cukup lama terjalin. Semakin lama mengenalnya justru kami semakin dekat. Awalnya kami saling berbagi cerita, dan ternyata aku merasa nyaman berbagi dengannya. Haikal menganggap aku sahabatnya begitu sebaliknya juga dengan aku.
Banyak waktu yang pernah ku habiskan dengannya, Mungkin banyak juga cerita yang pernah ku lalui dengannya, dan buatku itu hanya sedikit cerita masa-masa putih abu-abu ku bersama sahabat-sahabatku. Aku tau siapa haikal dan haikal tau siapa aku. Kami memang sama-sama mempunyai masa lalu dengan cinta, di bilang hampir sama cerita yang pernah kami hadapi.
Haikal tau aku sedang mencintai pria, dan pria itu adalah dika. Begitu banyak cerita ku kepada haikal tentang dika yang ku cintai selama ini, aku  juga sempat mengeluarkan beningku untuknya di depan haikal. Mungkin haikal tau semua tentang perasaanku dengan dika. Dimana aku membutuhkan teman untuk berbagi ceritaku dan perasaanku tentang dika. Dan haikal lah satu-satunya sahabat pria yang selalu siap menampung semua kisahku.
Begitu besarnya rasa cinta ku kepada dika, segala sesuatunya selalu ku korbankan demi cinta. Dan aku coba bertahan walaupun aku tau begitu banyak lelaki yang tersakiti hanya karena aku bertahan untuk tetap mencintai dika. Sahabat-sahabatku juga bilang berharap tanpa kepastian itu hanya menunggu harapan yang tak pernah pasti. Tetapi cinta lah yang selalu buatku bertahan. Entahlah mungkin cinta sudah membutakan mata hatiku. Sempat aku ingat ucapan teman-temanku, mereka bilang  “ lebih baik haikal daripada dika yang kucintai selama ini ”. aku  tak mengerti apa maksut ucapan mereka itu, mungkin mereka lebih suka melihatku bersama haikal. Aku rasa aku dengannya hanya bersahabat baik, jadi tak mungkin jika kami bersama karena aku tau haikal juga mencintai wanita lain, mungkin dibilang wanita itu lebih baik dariku. Aku rasa kami memiliki cinta masing-masing. Aku dan haikal memang tak ada status hubungan dengan orang lain mana pun, hanya saja  kami memiliki cinta buat orang yang kami cintai.
Begitu lamanya aku bertahan untuk tetap mencintai dika, dan sudah saatnya aku harus tau siapa dika sebenarnya, yang aku tau dika lelaki baik, tak ada satu kejelekanpun dika di mataku. Dan aku berharap suatu saat nanti aku akan bahagia dengannya. Entah kenapa aku selalu menaruh harapan yang begitu besar dengannya, karena saat ini dika tak sedang menjalin hubungan dengan wanita manapun. Tetapi terakhir yang aku tau dika sempat menjalin hubungan dengan ayu, itu juga hanya sampai 6 bulan saja mereka bertahan dengan hubungannya.  
                                                                        ***
            Detik-detik menjelang Ujian Nasional aku selalu disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar. Dan bulan ini aku memang harus fokus dalam menghadapi ujian. Itu artinya semua waktuku harus dikorbankan hanya untuk belajar. Sepertinya untuk saat ini aku  jarang memiliki waktu untuk dapat bertemu dengan dika, mungkin hanya dengan sms kami dapat berkomunikasi. Aku memang sangat dekat dengan dika, dan sebenarnya dika tau kalau aku mencintainya, hanya saja dika tak pernah bilang satu kalimatpun kalau dika mencintaiku. Tetapi dari sikap baik dan perhatiannya dika kepadaku itu sudah lebih dari cukup. Aku juga sebenarnya ingin tau bagaimana perasaannya terhadapku, agar nanti akhirnya aku tidak dibuat hanya untuk menunggunya. 
                                                                        ***
            Siang itu.. di kantin sekolah aku yang sedang menikmati jus melon sendirian, tiba-tiba aku melihat ayu dan teman satu genknya menuju kantin. Dan jarak meja kami tak jauh, hanya saja ayu tak melihatku. Tetapi sepertinya salah satu teman ayu ada yang melihat keberadaanku disini. “ yu.. gw lihat lo deket banget sama dika, balikan lagi ya?” ucap dini salah satu teman satu genk ayu. “ haha… balikan sih enggak, Cuma kemarin setelah pulang sekolah dika bilang kalau dia itu masih sayang sama gw.. dan lo tau gag saat itu juga dia megang tangan gw dan bilang dia masih sayang.. haha” suara ayu terdengar kencang sampai-sampai aku tak sengaja mendengarnya. “ gilaaaaaaa… dika romantis banget.. terus kenapa gag jadian aja lagi? “ timpal  sri dengan nada penasaran. “ enggak segampang itulah, dia takut buat ngambil keputusan deh kayanya, loe tau kan kalo dia itu lagi disukain cewek, jadi sekarang yang terpenting tuh cewek harus tau kalo dika tuh sayangnya sama gue”. Ucap ayu terseyum. Merekapun sangat menikmati dengan cerita ayu, tiba-tiba beberapa menit ayu melihat aku keluar dari kantin. “ itu kan alisya…”, ucap ayu dengan nada kaget. “ emang iya… hahaha biarin ajalah dia tau, lagi juga kan biar dia gag terus-terusan berharap sama dika, gue emang udah tau kalo ada dia disini, jadi gue sengaja ngebahas ini.. hahahahaha”,  ucap dini sambil tersenyum licik. “haha… stresss lo gue juga gag ngebayangin gimana sekarang perasaannya,” balas ayu.
***
            Saat itu juga setelah aku keluar dari kantin aku benar-benar tak bisa membendung air mataku, semua pasang mata melihatku menangis sambil berlari-lari. Rasanya aku ingin sekali pulang dan tak ingin semua orang melihatku menangis. Tak lama kemudian, aku berpapasan dengan dika. Dika memanggilku, sama sekali aku tak mempedulikannya. Dan nyatanya aku semakin isak dengan tangisanku, aku terus berjalan menuju kelas ternyata dika mengejarku. “sya… kenapa nangis? Cerita dong sama gue?” ucap dika sambil memberikan tissuenya kepada alisya. “ mau apalagi lo dik? Gue udah tau semua jawabannya ternyata kayak gini ya akhirnya, sama aja kaya gini lo nusuk gue dari belakang, gue yang selalu berharap sama lo tapi nyatanya apa? Semua kebaikan lo selama ini Cuma bulshit!!! Lo gag jauh dari orang munafik, ngapain lo ngasih harapan ke gue kalo nyatanya kaya gini. Udah lah dik makasih buat semua kebaikan lo selama ini, “ jawab alisya sambil terus mengeluarkan beningnya dan saat itu juga dia pergi meninggalkan dika yang masih terdiam dengan kata-katanya. “ sya…. Tunggu gue minta maaf sama lo…” jawab dika dengan nada menyesal. Akhirnya tak ada lagi percakapan diantara kami berdua. Mungkin itu adalah kata terakhir yang alisya ucapkan kepada dika.
***
Sayang semuanya dika hancurkan begitu saja, dulu dika yang selalu mengajariku bagaimana mencintai dan sekarang dia mengajariku bagaimana membenci. Cukup lama aku bertahan untuk tetap mencintainya, sampai saat ini aku akan meninggalkan masa-masa sma ku. Dika mencoba menusuk dan membunuhku secara perlahan, buat apa selama ini aku bertahan jika akhirnya menyakitkan seperti ini. Ternyata selama ini dika sangat baik bukan hanya denganku, tetapi ia baik dengan wanita-wanita lain. Aku sempat shock dan tak ingin mencintai lagi, mungkin aku tak akan pernah bisa jatuh cinta dan aku rasa mungkin inilah yang terakhir kalinya aku merasakan jatuh cinta. Aku trauma dengan semua ini. Sebenarnya aku tak ingin ini yang terjadi, mungkin ini adalah jalan yang terbaik buatku walaupun ada rasa luka yang sulit untuk di sembuhkan.
Aku jadi teringat haikal pernah menasehatiku, jika lelaki baik dengan wanita itu wajar-wajar saja. Seharusnya aku tak terlalu berharap besar dengan dika, karena masih banyak yang lebih baik darinya. Aku memang tak pernah perduli dengan nasehat haikal satu ini, mungkin cinta yang membutakan mata hatiku untuk tetap bertahan. Tetapi ternyata semua nasehat haikal terbukti sekarang.
Genap sebulan aku mencoba melupakan dika, sedikit demi sedikit akhirnya perasaanku mulai pudar, mungkin karena hatiku lelah dengan kejadian ini. Dan sekarang memang saatnya aku melupakan dirinya untuk selamanya.
                                                                          ***
Pagi ini aku bermaksut ingin bertemu dengan haikal, beberapa bulan ini aku jarang berkomunikasi dengannya, mungkin karena kami sibuk mengurus keperluan untuk kuliah. Kami baru saja lulus dari SMA. Dan akhirnya, aku putuskan untuk bertemu dengannya di tempat biasa aku datangi bersama sahabat-sahabatku. Sesaat kemudian, ku ambil handphone di dalam tasku dan  ku kirim pesan untuk haikal.
To : haikal
Gue pengen ketemu lo siang ini. Bisa kan?Gue tunggu ditempat biasa ya…

Sesaat kemudian handphoneku bergetar..
From:haikal
Insya allah bsa. Ok deh.

Akhirnya, kami putuskan bertemu nanti siang. Sampainya disana, aku tak melihat haikal, mungkin dia masih dalam perjalanan. 15 menit kemudian, akhirnya orang yang ku tunggu datang juga. Tak lama kemudian kami memesan makanan dan minuman, setelah kami selesai makan aku pun memulai untuk bercerita, begitu banyak cerita yang ingin aku ceritakan dengannya. Di sela-sela kami sedang asyik tertawa dengan cerita kami, tiba tiba mimik mukaku berubah seketika, mataku tertuju pada haikal seperti meminta pertolongan.
“ hemmm, kal aku mau melupakan dika? “ ucap alisya sambil menyedot minuman jus melonnya.“ tumben sya, kenapa? “ jawab haikal. Sambil menghela nafas. Akhirnya akupun mulai bercerita…..  “ aku tak ingin bertahan jika akhirnya menyakitkan seperti ini kal, sepertinya hatiku lelah dengan semua ini,dulu aku begitu yakin dengan dika, tetapi sekarang dika hancurkan begitu saja kepercayaanku “. “ kamu benar-benar yakin ingin melupakan dika?”, sebenarnya sejak lama ada yang mau aku sampaikan ke kamu sya? “ haikal merendahkan suaranya. “ iya aku yakin, perih hatiku ingat kejadian itu semua, aku memang harus mengalah demi kebahagiaannya dengan wanita yang dicintainya, buat apa aku terus mencintai tetapi akhirnya menyakitkan. Eh, kamu mau ngomong apa kal ke aku? Wah.. ada yang kamu tutupin ya dari aku? Aku kan sahabatmu, kamu percaya aku kan? Timpal alisya sambil penasaran. Mata haikal tertuju padaku, tatapan matanya begitu dalam menatapku, kedua tangannya  menyentuh dan memegang tanganku begitu erat. “ aku sayang kamu sya, inilah saatnya aku mengungkapkan perasaanku ke kamu”. Mata haikal masih terus menatapku. Sesaat kemudian aku melepas kedua tangan haikal, jantungku berdetak lebih cepat mendengar pengakuan haikal kepadaku saat itu. Aku terdiam tak bisa berkata-kata, beberapa menit kemudian aku merespon pengakuan haikal “ kita ini sahabatan kal!!!!!Kamu gak usah buat aku geer deh!!!! “. ucap alisya tanpa basa basi.“ ini serius syaaaaaaaaa… aku sayang kamu, sudah lama aku menutupinya darimu karena aku tau kamu masih saja mencintai dika, dan sekarang akhirnya kamu ingin melupakannya. Aku rasa ini waktu yang tepat mengakuinya “, suara haikal terdengar serius. Haikal masih saja menatapku, aku menundukkan kepalaku rasanya aku tak ingin melihat haikal yang ada di depanku saat ini. Hampir setengah jam kami berdiam, sepertinya suasana berubah menjadi tegang. Haikal meminta jawabanku saat itu juga, aku sempat tak habis fikir kenapa suasana menjadi seperti ini. Aku masih terus memilih berdiam. Kemudian, dika memegang tanganku dan menonggakkan dagu ku yang masih menundukkan kepala.“ sya… kamu kenapa? Aku minta jawabanmu sekarang ya? “ Akhirnya aku mulai bicara. “ aku gak tau kal mau jawab apa, aku ngerasa aneh aja kita yang dulu sahabatan ternyata selama ini kamu mencintaiku, aku terima kamu kal karena aku tau kamu tulus mencintaiku, sekarang aku ingin menghargai perasaan lelaki yang tulus mencintaiku, mungkin Tuhan membuka fikiranku karena masih banyak lelaki yang lebih baik dari dika, dan aku berharap kamu lelaki terbaik untuk hidupku “. Ungkap alisya sambil tersenyum dengan haikal.“ makasih ya sya… aku akan berusaha menjadi yang terbaik buatmu “. jawab haikal.









Jumat, 17 Desember 2010

untukmu sahabat

sebut ia sahabat, karena ia selalu ada untukku.
Ia tempatku berbagi.
Ia tempatku tertawa lepas.
Ia tempatku bercanda gurau.
Ia tempatku berkeluh kesah.
Ia tempatku menangis.
Ia tempatku untuk mendengarkan semua ceritaku. Semua posisi itu selalu ku tempatkan untukmu sahabat. Tak ada tempat lagi selain aku dapatkan darimu, jangan pernah lupakan semua cerita yang kita lalui. Saat ini tak ada lagi kebahagian yang tak ternilai karena aku sangat bahagia bersama sahabatku.